cerpen “SUARA YANG KU RINDUKAN”
“SUARA YANG KU RINDUKAN”
Karya: Ana
Wahyu Kusniati
NMP: 14040004
Bukan sekedar rasa yang dulu pernah ada, bukan pula hati yang
selalu merindukannya, tapi ini tentang sebuah komitmen dan istiqomah. Iya benar
komitmen dan istiqomah adalah hal yang sulit saat kita ingin berada dalam
sebuah garis lurus, bukan tak mampu tetapi terkadang diri ini merasa tak
percaya diri, dan keadaan yang senantiasa memaksa untuk berhenti. Tetapi, apa
hanya mampu sampai disini? hanya mampu bertahan di level ini?
Humairah Az-Zahra nama yang diberikan oleh kedua orangtua ku pada
ku. Nama sederhana yang mengandung do’a indah yang senantiasa dicurahkan oleh
umi dan abi. Saat ini aku baru saja menginjakkan kaki dalam lingkungan yang
baru, dan yang jelas suasana yang baru pula. Berada di tengah-tengan mahasiswa
baru yang memiliki cita-cita serta harapan yang sama, yaitu menggapai cita dan
membahagiakan kedua orangtua. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Muhammadiyah Pringsewu Lampung adalah nama kampus pilihan ku. Bukan tanpa
alasan aku memililih kampus ini sebagai tempat untuk menuntut ilmu dan
mewujudkan cita-cita ku. Guru, adalah cita-cita ku, dan yang jelas harapan ku
saat ini memasuki dunia yang baru adalah memperbaiki diri ini.
Aku masih sangat teringat ketika teman ku semasa SMA saling
memberikan semangat untuk menggapai dan mewujudkan cita-cita kami. Mea sahabat
ku yang satu ini memilki hobby ngantuk saat jam 08.00 WIB ternyata memiliki
cita-cita yaitu menjadi seorang ahli fisika, sehingga ia melanjutkan pendidikan
di salah satu Universitas Negeri di kota Bengkulu dan mengambil konsentrasi
dalam bidang ilmu Fisika murni. Sementara Lanjar Utami sahabat ku yang paling
pendiam ternyata memilki cita-cita untuk menjadi seorang ahli kesehatan
sehingga ia melanjutkan disalah satu Politeknis Negeri yang ada di kota
Jakarta. Sedangkan sahabat ku yang paling cantik dia dengan setia selama 3
tahun duduk bersama ku menjadi sahabat sebangku dan menjadi orang pertama yang
selalu mendengar keluh kesah ku saat menghadapi berbagai macam persoalan
ala-ala anak SMA. Lucu sekali kala aku mengingat kejadian tempo lalu, iya aku
sangat merindukannya, sangat mengingankan hal itu terulang kembali.
Banyak yang berkata kenapa kami tidak memilih kampus yang sama? Ya
wajar saja hampir setiap hari selama 3 tahun kami bersama di SMA dimana ada aku
jelas ada ke tiga sahabat ku, sehingga banyak yang berkata bahwa kami tidak
akan bisa jika dipisahkan. Namun, kenyataannya saat ini kami membuktikan, kami
memilih kampus yang berbeda. Benar, awalnya aku sangat tidak nyaman dengan
keadaan ini, tetapi ternyata perpisahan kami mengajarkan hal yang baru,
mengenalkan kami dengan dunia baru.
Awal memasuki dunia perkuliahan yang semua serba baru, bukan hanya
sekedar lingkungan, pelajaran, ataupun teman melainkan lebih dari itu. Anak
kost sebutan untuk ku saat ini, iya aku harus rela berjauhan dengan umi dan abi
serta ke dua adik ku yang sangat tampan, aku harus merelakan melihat
perkembangan si bungsu, adik ku yang paling kecil Alvin Bayu Maulana masih
berusia 3 tahun, iya usia yang sangat menggemaskan. Ingin rasanya aku setiap
saat bersama si kecil, tetapi demi cita-cita ini aku harus siap dan menerima
hal itu.
Bukan hal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, aku
membutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk dapat menyesuaikan dengan keadaan.
Menjadi seorang mahasiswa yang notabenya adalah anak rantau yang jauh dari
keluarga sehingga segala sesuatu baik itu masalah pelajaran atau masalah
kehidupan anak kost ya di penuhi dan di selesaikan sendiri.
Tapi, akau sangat beruntuk memilki ibu dan bapak kost yang sudah
seperti orang tua sendiri, meskipun terkadang sedikit mengekang tetapi pada
dasarnya hal itu sangat baik untu ku. ya kemabli lagi dengan keadaan kampus ku,
aku kuliah di sebuah kampus yang berlandaskan atau di bawah naungan
muhammadiyah, jelas lingkungan kami di sesuaikan dengan hal tersebut. Awalnya
sangat sulit bagi ku menyesuaikan diri dengan lingkungan seperti ini, namun
seiring waktu berlalu aku mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang penuh
religi ini. hal ini jelas menghapus duka lama yang pernah ku simpat rapat dalam
hati, yaitu saat aku tidak bisa melanjutkan kuliah bersama dengan ke tiga
sahabat ku.
Namun, Maha suci Allah, Maha Besar Allah yang telah memberikan
petunjuk dan memberikan jalan hingga akhirnya aku mampu berada di tengah-tengah
mereka, di tengah-tengan murabbi yang dengan senantiasa membimbing dan memberikan
nasihat yang bijak kepada ku, dan tak kalah aisyah sahabat ku yang luar biasa
sholehah, sampai iri kalau lagi sama ais pingin banget bisa kaya ais, dulu saat
pertama Ospek kami sudah bersama hingga sekarang ini. aisyah wanita yang
lembut, baik, sholehah, dan tentunya calon istri idaman kaum adam.
Aku banyak belajar dengan aisyah sahabat ku yang satu ini selalu
memberikan masukan-masukan dan memotivasi saat aku merasa tidak yakin dengan
sebuah pilihan. Hingga saat aku memilih untuk meninggalkan kekasih hati yang
sangat aku sayang kala itu, ais lah yang menyadarkan ku, atas kesalah yang aku
biar kan ada sejak dulu hingga kini. Kata-kata ais yang kala itu menyadarkan ku
dari lamunan dosa yang ku buat selama ini benar-benar membuat hati ini
tertunduk malu, Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik
untuk wanita yang baik. Masya Allah rasanya diri ini malu sekali, merasa rendah
dan benar-benar berdosa.
Sampai pada suatu ketika, suara itu senantiasa menggema dalam
telinga ini, suara itu senantiasa ku rindukan di relung hati yang terdalam.
Namun, istiqomah dalam suatu pilihan harus di junjung tinggi. Wahai hati,
bersabarlah untuk menunggu, tidak mengapa , jika bukan saat ini maka akan ada
saat yang indah kelak maka tak usah dirisaukan. Yakin lah akan tiba saat nya
hati ini berlabuh di tempat yang sesuai dan sangat tepat di waktu yang tepat
serta dengan cara yang tepat dan tentunya dengan orang yang tepat yang sudah
Allah tetapkan untuk meneyempurnakan agama ku.
Hingga tibalah pada sebuah kesimpulan bahawa Allah akan memberikan
yang terbaik bagi setiap hambanya, maka persiapakan diri untuk menjadi lebih
baik dihadapan Allah. Kesungguhan untuk berubah dan keyakinan untuk senantiasa
istiqomah, adalah hl terpenting untuk senantiasa meluruskan niat menjadi wanita
yang lebih baik, berkualitas agar senantiasa dirindukan oleh Syurga Nya Allah.
Aamiin.
ANALISIS UNSUR-UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK
CERPEN “SUARA YANG KU RINDUKAN” Karya: Ana Wahyu
Kusniati
A.
UNSUR
INTRINSIK
1. Tokoh
/ karakter tokoh : Aku
(Humairah Az-Zahra) karakter baik, sopan
Aisyah, karakter lembut, sholehah, baik hati.
2. Latar
/ setting :
Tempat : Kampus STKIP MPL
Waktu :
pukul 08.00 wib
3. Alur
:
Campuran (Maju mundur)
4. Sudut
pandang :
Orang Pertama Tunggal (Aku)
Orang Pertama Jamak (Kami)
5. Gaya
Bahasa : Gaya
Bahasa yang digunakan dalam cerpen ini didominasi dengan gaya bahasa Personifikasi
Dengan dibuktikan dalam kalimat:
Ø Bukan
pula hati yang selalu merindukannya,
Ø Hati
ku tertunduk malu,
Ø Wahai
hati bersabarlah untuk menunggu,
6. Amanat
: Amanat
yang dapat diambil dalam cerpen ini
Adalah: bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi setiap hambanya, maka
persiapakn diri untuk menjadi lebih baik dihadapan Allah. Kesungguhan untuk
berubah dan keyakinan untuk senantiasa istiqomah, adalah hl terpenting untuk
senantiasa meluruskan niat menjadi wanita yang lebih baik, berkualitas agar
senantiasa dirindukan oleh Syurga Nya Allah.
B.
UNSUR
EKTRINSIK
1. Nilai
agama/ nilai religius, yaitu nilai yang berhubungan dengan aturan agama, yang
berisi perintah dan larangan Tuhan dalam
cerpen ini terdapat dalam kalimat: “Wanita
yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik”
serta dalam kalimat “Allah akan memberikan yang terbaik bagi setiap hambanya,
maka persiapakn diri untuk menjadi lebih baik dihadapan Allah.”
2. Nilai
moral, yakni nilai yang berhubungan dengan tingkah laku manusia dalam bergaul
dengan manusia lain, dalam kalimat: “Aku banyak belajar dengan aisyah sahabat ku yang satu ini selalu
memberikan masukan-masukan dan memotivasi saat aku merasa tidak yakin dengan
sebuah pilihan.” Serta dalam kalimat “Berada di tengah-tengan mahasiswa baru
yang memiliki cita-cita serta harapan yang sama, yaitu menggapai cita dan
membahagiakan kedua orangtua.”
3. Nilai
sosial, yakni yang berhubungan dengan peraturan yang berlaku di masyarakat, dalam
kalimat: “Awal memasuki
dunia perkuliahan yang semua serba baru, bukan hanya sekedar lingkungan,
pelajaran, ataupun teman melainkan lebih dari itu. Anak kost sebutan untuk ku
saat ini, iya aku harus rela berjauhan dengan umi dan abi serta ke dua adik ku
yang sangat tampan, aku harus merelakan melihat perkembangan si bungsu, adik ku
yang paling kecil Alvin Bayu Maulana masih berusia 3 tahun, iya usia yang
sangat menggemaskan.”
Komentar
Posting Komentar