Kumpulan Puisi Karya Ana Wahyu Kusniati
Kumpulan Puisi Mini Pertama
Senja
Menyapa
“Heningnya malam menyapa purnama. Hembusan
angin memecah malam”
*Nawayusti*
Senja Menyapa
Kumpulan Puisi
Karya Ana Wahyu Kusniati
Layout : Sudar
Desaign Cover : Sudar
Cetakan 15, Mei
2015
Ukuran :
Penerbit:
Isti.qom
Jln. Wisma
rini. No.04 Pringsewu selatan- Lampung.
Daftar Isi
Halaman Sampul...................................................... i
Goresan Pena dalam Untaian Kata..................... iii
Senja menyapa
Tentang Penulis.........................................................
Goresan
Pena dalam Untaian Kata
|
M
|
aha Suci
Allah yang telah memberikan sejuta kebahagiaan dengan pintu rezeki-Nya. Rasa
syukur yang terdalam terpancar dalam butiran-butiran bening dikala hati mulai
tersenyum. Rencana Allah yang menggenggam segala kehidupan.
Ucapan
terimaksih kepada:
Keluargaku
Bapak Mohyatno dan Ibu Erni repita serta nenek ku tersayang sutiyah. Selaku
orang tua yang dengan ridho dan do’a mereka yang tiada henti, telah menemukan
secercah cahaya dalam tiap-tiap keinginan yang terus menggema. Untuk adikku
yang tampan Arya Dwi Mahendra semoga cita-citamu menjadi seorang Ilmuan yang
dapat menciptakan alat-alat yang berguna untuk orang banyak, wah mulia sekali
cita-citamu dik tetap semangat lanjutkan, dan Alfin Bayu Mulana sikecil manisku
yang memiliki cita-cita menjadi seorang pilot semoga dapat didengar oleh Allah
dan dikabulkan pada waktu yang telah tercatat dalam lauhul Mahfudz. Untuk isti.qom yang sudah membantu dalam
menyetak puisi ini. Semoga kerjasama ini
dapat terjalin dengan baik, semoga kesuksesan terus mengiringi. Aamiin
Penulis,
Ana
Wahyu K
Senja
Menyapa
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Sendu, saat aku berdiri dalam lamunku
Ku pandangi bayangan itu
Senja menyapa, namun ia tak berkata
Bisu dalam hening nya
Pengamat anak Adam yang tertawa
Saat senja menyapa, kala itu fajar
tertawa
Esok kembali ialah yang menyapa
Bukan dia atau mereka
Keagungan Mu tiada ku ragu
Kasih sayang Mu tak mampu ku tiru
Ya Rabb Ku,
Aku laksana senja menyapa malu-malu
Ampunan
Mu
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Heningnya malam menyapa purnama
Hembusan angin memecah malam
Dalam selimut subuh ku termenung
Termenung, kosong….tak bernyawa
Untaian kata
bermakna ganda
Bayangan ilusi
fatamorgana
Terdiam, bersujud
memohon ampunan Mu
Seonggok daging
penuh sesal
Dosa yang membelenggu
Bagai pohon menjerit, menangis
Mampukah tubuh ini menopang?
Menopang dosa yang tak terbilang
Bersujud dalam
malam Mu
Berharap secercah
Ampunan Mu
Tersungkur
berwajah pilu
Memohon ampunan Mu
Isyarat
Cinta
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Izinkan aku mendo’akan mu
Izinkan aku mengagumimu
Membisikkan kata lirih nan sayu
Dibawah langit malam Mu nan syahdu
Langit masih biru
Sejak pertama
diciptaan hingga sekarang
Embun pun masih
bening terasa biru
Setiap hadir
didedaunan yang tak berujung
Rupanya nama mu pun tak mau kalah
Masih tetap tersimpan dihati ini
Mencintai mu dalam diam ku
Menyayangi dan mengagumi mu dalam lantunan Do’a ku
Akhirnya sampai
pada sebuah penjuru
Ruh ku bertasbih
pada Nya
Isyarat cinta
kepada Nya dan kepada mu
Kutitip kan nama mu
dalam Genggaman Nya
Taubat
Karya:
Ana Wahyu Kusniati
Membuka tabir cakrawala
Bagai sang surya diufuk timur
Dibawah naungan rumah suci Mu Ya Rahman
Ku termenung penuh kehampaan
Orang-orang
berduyun-duyun
Membuka tabir
dalam kesunyain Malam Mu
Bersimpuh,
berserah dalam keheningan
Berharap kasih
dalam untaian tasbih
Ya Rahman Ya Rahim sang pengusa alam
Tak satu pun menolak
Zat Yang Maha Agung, Maha Esa
Tak akan pernah ada banding dan duanya.
Begitu hina diri
ini Ya Allah
Begitu rendah diri
ini Ya Rabbi
Dalam hening waktu
Mu ku bersujud
Berdo’a, berharap,
bermunajat kepada Mu
Malaikat
ku
Karya: Ana wahyu Kusniati
Mentari mulai terbit di ufuk timur
Kunikmati pesona pagi yang menyegarkan
Kulihat senyum manis mu menyimpan harapan besar
Setiap lahkan mu memberikan tauladan
Dalam malam Nya
kau selalu mendo’akan ku
Berharap kesukses
dapat ku raih
Berharap beban tak
boleh kurasa
Cinta kasih mu
sungguh amatlah besar
Rasa takut pun membayangi ku
Kulihat wajah mu mulai sayu, rambut mu mulai memutih
Kulit yang dulu kencang kini telah mengkriput
Badan yang dulu kekar kini telah rapuh oleh waktu
Tak mampu ku
bayangkan hidup ini tanpa kalian
Tak sanggup ku
lalui hari-hari itu
Maafkan salah dan
ridhoi setiap langkah ini
Agar mampu mencium
wangi surga Nya
Cinta
dalam Do’a
Karya : Ana Wahyu Kusniati
Kumandang azan semakin terdengar
Seluruh penjuru menyerukan nama Mu
Untaian tasbih berselimut taqwa
Pembuktian cinta yang sesungguhnya
Jika waktu yang
akan menjawab
Izinkan hari
menjadi saksi
Biarlah ia yang
mengetahui akan rasa ini
Tetap rapih dalam
relung hati ini
Menebar kasih dalam Do’a ku
Kusebut nama mu dalam setiap Do’a ku
Mencintai mu dalam diam ku
Cara terbaik menggapai Cinta
Nya
Satu-satunya Cinta
yang kekal
Cinta yang
haqiqi…..
Biarlah ketentuan
itu yang akan menghampiri
Kuserahkan kepada
Mu yang maha menguasai hati
Titik
Hitam
Karya : Ana Wahyu Kusniati
Sunyi, sepi, tak nampak cahaya
Sukar diungkapkan lewat angan
Using cerita tak lagi berkata
Bisu, bisu saat mengucap
Semua
hilang, satu yang tersisa
Hilang
bagai debu tersapu angin
Berjalan,
sesal ku mulai berjalan
Titik
hitam memakan waktu lalu terurai
Malam, malam penuh kelam
Rembulan mulai tersenyum
Namu, langit tetap hitam legam
Nastapa dunia....hitam
Ikhlas
Tak Seindah Nama mu
Karya : Ana Wahyu Kusniati
Ikhlas, ikhlas, ikhlas
Ikhlas untaian kata indah
Namun tak seindah nama mu
Ikhlas puingan kata bermakna ganda
Ikhlas,
ikhlas, ikhlas
Tak
semudah ungkapannya
Tak
seindah namanya
Bukan
hanya ungkapan
Kelu, saat lidah tak terucap
Ikhlas, ikhlas, ikhlas
Tak berupa, tak bernyawa
Cukup disimpan di dalam hati
Karunia Mu
Karya : Ana Wahyu Kusniati
Rintik hujan mulai turun
Terdengar merdu dibalik tirai
Sendu, menatap taman bagaikan gurun
Kata yang indah tak mampu terangkai
Ungkapan
apa yang hendak terucap?
Ribuan
kata bahkan bahasa
Satu
kata indah pun tak mampu mewakili
Karunia
Ridho Illahi
Ya....Rabbi, pohon pun ikut bertasbih
Ribuan makhluk tunduk pada Mu
Inilah diri yang selalu rindu
Rindu cinta, dan kasih Mu
Bulan
selalu menyapa
Matahari
tersenyum riang
Seluruh
bukti cinta
Cinta
kasih bukan terlarang
Diri ku
untuk Mu
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Jika kata menjadi kalimat
Kalimat terindah hanya untuk Mu
Jika kata mampu menyayat
Sayatan terdalam perbuatan ku
Tak
henti ku memohon
Tak
henti ku merangkai
Rangkaian
terpanjang sepanjang malam
Menanti
setitik kasih dan ampunan
Jika tiba saatnya
Diri tak sanggup menopang
Kuharap kasih Mu mampu memeluk ku
Ya Rabbi inilah diri yang senantiasa
untuk Mu
Panggilan
Mu
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Jangkrik berdengung di sepanjang sungai
Sang surya mulai menyingsing
Membenam senyumnya dalam sunyi
Senyuman indah itu tenggelam dalam
hening
Suara
indah saling bersahutan
Memecah
keheningan
Segala
penjuru saling menyeru
Lalu
berbondong-bondong penuhi panggilan Mu
Lantunan sholawat iringi langkah kaki
Anak-anak berjalan dengan senang hati
Orang tua berjalan dibelakangnya... bak
pengembala
Cahaya terang terpancar nyata
Laa
illahhaillallah.....
Di
langgar kecil kampung indah
Mengawali
senja memecah senyum
Senyum
indah sang rembulan
Bidadari
Dunia
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Membawa ku kesana kemari
9 bulan 10 hari
Tiada lelah engkau menanti
Menanti hadirnya sang buah hati
Ungkapan
kata nan sederhana
Teriring
harapan dan cita-cita
Agar
senantiasa aku terlahir
Selamat,
teriring rahmat
Wahai mutiara hati ku
Malaikat di dunia
Pembuka pintu syurga ku
Kaulah bidadari dunia
Sayap
Malaikat
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Hari yang indah saat kutemukan sinar
bahagia di mata mu
Tak ada masalah yang terpancar
Tak ada gurat terurai
Sama...bahagia yang ada
Sayap mu menaungi ku
Tanpa sedih, gundah dan air mata
Perih...kadang kau rasa
Derita, mulai mengoyak jiwa dan raga
Malaikat ku, sayap mu terbentang
Lindungi aku dalam kegelapan
Peluk hangat selalu terasa dalam
keheningan malam
Tak mampu terurai...hanya air mata
Tulus
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Tersenyum
manis dari ufuk timur
Perlahan fajar
mulai menyingsing
Bulan
hilang....namun tidak kasih mu
Bintang
hilang.... namun tidak cinta mu
Terurai do’a
dalam keheningan
Berderai air
mata dalam kebisuan
Mengapa cinta
kasih mu tidak...?
Tidak sedikit
pun
Pesona mu
adalah semangat ku
Bumi tersenyum
kala melihat mu tersenyum
Bumi menangis
kalau kau menangis
Tak kan
kubiarkan butiran itu terjatuh
Wajah mu
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Tak henti lantunan ini terurai
Bermanja disepertiga malam Mu
Terbayang wajah sendu, dan lelah
Tergambar segalah susah
Tiada
kasih yang paling indah
Hanya
kasih itu, lembut bagai salju
Wanita
penuh ikhlas tiada mengeluh
Satu
cita, satu cinta untuk buah hati mu
Peluk kasih mu bagai sayap malaikat
Selalu siap membentang melindungi
Tak gentar dengan segala gangguan
Hanya satu... kebahagian ku yang kau
inginkan
Malaikat
pemilik sayap indah berhati emas
Tak
mampu terucap, tak mampu ku jawab
Penopang
Lara
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Senja berkata
Mampukah fajar menyapa
Sementara segalanya terpana
Kasih mu tiada dua
Tak
berlipat namun berganda
Disini
selalu termenung
Memperhatikan
gerutan-gerutan itu
Semakin
hari semakin terlihat nyata
Penguat keluarga
Sekuat baja, namun lara
Selembut sutra
Namun gurat tak nyata
Wahai
penopang segala
Izinkan
tutup guratan nyata
Selalu
menyapa fajar tanpa lara
Do’a
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Saat fajar tersenyum tenang
Dingin subuh memeluk sukma
Gemercik air mengiringi jiwa
Entah..... kelabu rasanya
Wahai
penenang jiwa
Tetaplah
ada....
Temani
lara dan derita
Kasih
mu tiada sirna
Angin tak mau kalah
Sapa mu hadir bersamanya
Tetesan Air di sepertiga Nya
Kau tuangkan cinta dan Do’a
Ikhlas
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Ikhlas untaian kata yang indah
Lantunan yang tak bosan diucap
Hati tulus penuh kasih
Ungkapan kasih untuk ananda
Apa
yang harus ku perbuat?
Do’a
yang selalu kau lantunkan
Perih
kadang kau tahan
Jiwa
raga tak henti kau paksakan
Intan permata tak berguna
Emas berlian tak berharga
Peluk kasih mu yang utama
Tangan lembut penopang lara
Tiada
lagi yang lain
Kaulah
wanita berhati malaikat
Kasih mu
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Dibalik kelabu
Rangkaian indah nan syahdu
Dinginnya bumi
Penuh hangat kasih mu
Kasih, dari Sang Pengasih
Kala
mentari menyapa esok hari
Senyum
mu tetap ada
Penuh
kasih penuh warna
Kasih
mu teramat kasih
Tulus
indah kasih... tiada lara
Sutra
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Lembut membelai tubuh
Jemari kasar penuh dambaan
Tanpa ribuan alas an tetap satu
Cinta
mu adalah tujuan
Tiada
kasih yang mampu menggantikan
Suara
lirih penuh cinta
Belaian lembut bagaikan sutra
Mendayu hingga senja menyapa
Tetap indah kasih mu
Malaikat
berhati mutiara, berselimut sutra
Namun,
tak bertahta hanya Berjaya
Bahagia
ku harapan mu
Cahaya
ku
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Air mata membasahi pipi mu
Wajah yang mulai sayu, tak bersolek
Kulit yang tak kencang lagi
Tak pernah kau sesalkan
Sejak
saat itu
Saat
terindah bagi mu
Terpancar
senyum bahagia
Seperti
mentari yang menyapa
Gelak tawa tercampur bahagia
Tak mampu di utarakan
Tulus, cinta kasih kau perjuangkan
Kau pertaruhkan tiada lelah
Kau
bagaikan bidadari
Seperti
matahari yang tersenyum indah
Tiada
ganti bak bintang kejora
Bak
bulan purnama
Pejuang
kasih
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Tak pernah lelah kau menyapa
Penuh kasih,
Tak terucap penuh makna
Hanya kamu,
Bisik
indah nan merdu
Suara
lembut penuh kasih
Nyaman
tiada tergantikan
Tak
akan terabaikan
Derita yang ada tak kau rasa
Cukup satu cita kebahagiaan ku
Gelak tawa ku yang utama
Sejak dulu.... indah cita mu, teramat
indah
Senja
Pudar
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Semua telah beralih rupa
Tak ada yang mampu berbagi rona indah si
senja
Tak ada lagi yang mampu di ujarkan
Tak ada yang tahu
Nyanyian hujan malam nanti itu apa
Sungguh
Aku teramat yakin
Angin masih bergemuruh saling deru
menderu
Setiap sore walau gagu
Dimana lagi ku temukan cinta?
Hanya pada Mu pemiliki cinta
Riang
dalam Hujan
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Hujan kembali dating
Riang, lenyapkan sepi dalam ruang
ingatan
Engkau pernah katakana bahwa berkah
datang sat hujan
Maka, izinkan diri untuk berdo’a hingga
petang
Pelipur lara penutup luka
Hanya pada Mu wahai sang pencipta
Tiada ragu, tiada sendu
Kami riang menyambut berkah Mu
Rindu ku
Pada Mu
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Angin hembuskan rindu
Membawa untaian kata nan syahdu
Bergejolah dalam jiwa, walau lara
Rindu, aku teramat rindu
Lihatlah kupu-kupu kepakkan sayapnya
Daun dipepohonan mulai gugur saling
bersenggolan
Rindu ku pada Mu kian menghujam
Hingga relung hati yang terdalam
Hanya sepenggal desah diujung air mata
Berharap kelak kita akan berjumpa
Di ujung rindu yang terbawa
Di sudut air mata, tak pernah ada lara
Qiamullail
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Bersama angin malam aku menyapa
Ditemani untaian do’a dalam jiwa
Tidak terucap namun tertata
Di jiwa tanpa kata
Dengan menyapa dimalam indah Mu
Terbawa aku dalam suasana
Rintik gerimis menambah syahdu
Betapa aku teramat merindukan Mu
Hanya dengan malam-malam indah Mu
Mampu ku pinta sepenggal keinginan dalam
diri
Ya Rabb ku Ridhoi aku
Hening
Kerinduan
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Pagi masih kabut
Dingin kian menusuk hingga menembus
kesunyian
Pada tiap hening yang beralih rupa
Daun-daun menari enggan pergi
Walau tertiup ia tetap berdiri
Hening sukma hening raga
Tiada lara hanya bahagia
Bukan tanpa alasan, karena
Alasan terindah adalah merindukan Mu
Sunyinya
Langit
Karya: Ana Wahyu Kusniati
Syahdu nada mulai membisik
Bersama hening yang jatuh berdetik
Dipinggir sunyinya langit
Aku duduk memandang nastapa
Sunyi sepi tiada arti,
Apa hendak ku cari?
Satu yang tak mampu di pungkiri
Insan di dunia ini tentu akan kembali
Kapan itu terjadi, hanya Allah lah
Sang pemilik kunci
Abadi, dalam sunyi ku bermimpi, mimpi...
Bertemu Mu pemilik hati
TENTANG
PENULIS
Ana Wahyu Kusniati lahir di Totomargo,
Batutegi Lampung tanggal 27 Juni 1996.
Anak Pertama dari tiga bersaudara,
yang merupakan anak perempuan satu-
satunya dari pasangan Bapak Mohyatno
dan Ibu Erni Repita.
Penulis mengawali pendidikan formalnya
di SD Negeri 1 Batutegi Tanggamus-Lampung, lulus tahun (2008). Lalu melanjutkan di SMP Negeri 1 Air
Naningan Tanggamus –Lampung dan lulus pada tahun(2011). Setelah menempuh jenjang
Sekolah Menengah Pertama Ana Wahyu Kusniati melanjutkan pendidikan formalnya di
SMA Negeri 1 Pulaupanggung yang berada di lampung, dan lulus pada tahun (2014).
Saat ini penulis sedang menempuh studi Pendidikan Bahasa Indonesia.
Kumpulan Puisi ’’Senja Menyapa’’, adalah
kumpulan puisi perdana mahasiswi yang Mengambil konsentrasi pada Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini. Penulis merupakan salah satu
penerima beasiswa bidikmisi tahun 2014 dan saat ini penulis tercatat sebagai
mahasiswa yang aktiv dalam Organisasi Pramuka di Kampus STKIP Muhammadiyah
Pringsewu Lampung sebagai (sekretaris 2015-2017) dan Himpunan Mahasiswa Bahasa
Indonesia (HIMABINDO) sebagai (Ketua Umum 2017).
Fb: Ana Wahyu Kusniati KA
e-mail:
WA
085789778599
Komentar
Posting Komentar