Cerpen Assalamu'alaikum Jodoh

 

Assalamu’alaikum Jodoh

Karya: Ana Wahyu Kusniati

 

Ketentuan Allah akan indah pada waktunya. Sesampainya di kota kelahiran ku, aku amat bahagia, karena sekian lama aku tak menghirup udara kota lampung yang sangat permai, indah dengan banyaknya pantai dan pemandangan yang belum banyak diketahui.

Hati ku kali ini sangat gembira sekali karena akan berjumpa dengan malaikat ku, ya benar sekali bertemu dan melihat senyum diwajahnya adalah hal terindah yang tak terdapt digantikan oleh apaun itu. Bapak ibu anak mu akan datang. Sepanjang  perjalanan dari  yogya hingga menuju kerumah tercita, yang aku pikirkan hanyalah rasa bahagia akan berjumpa dengan bapak dan ibu, adik-adik ku tentunya pun sangat aku rindukan. Tapi sayang, si bungsu sedang di pondok dan belum bisa pulang, kebutulan adik bungsu ku mondok di Kediri.

 

Tak lama tiba-tiba trevel yang aku tumpangi berhenti, dan ternyata aku terbangun dari tidurku. Owalah jan, sejak tadi aku tertidur rupaya.

’’ nduk, sudah sampai didepan rumah’’ terang supir trevel yang sudah ku anggap seperti pakde, karena kalau ada kegiatan di kampus dulu selalu menggunakan jasa pakde romli. Dan sekali ini pakde romli mengantarkan ku pulang ke lampung

’’Alhamdulillah, segera aku bergegas untuk turun dan ternyata bapak ibu sudah menyambut ku didepan rumah dengan penuh haru dan bahagia’’

’’moggo pakde pinarak riyen,’’ ucapku dengan pakde romli,

’’owalah nduk, kapan-kapan wae yo, soale pakdek arek jemput penumpang neng kota bumi’’ kata pakde romli

’’owh kados niku to pakde? Nggeh matur suwun sanget niki pakde’’ ucapku seraya menurunkan beberapa tas dari dalam trevel.

Setelah pakde romli memutar kendaraannya, bapak dan ibu segera menjemput ku dan memeluk erat ku. tak kuasa air mata ini ku tahan, rasa rindu dengn ibu ku tuangkan melalui air mata ini.

Dibawanya aku memasuki halaman rumah, disambutnya aku dengan suara kicau burung nan merdu, Nampak pohon dihalaman ku menyapa, melambai seolah tertawa dan bahagia menyambut kedatangan ku. bahagia sekali rasanya hati ku ini tak tau harus melalui untaian apa lagi yang jelas aku sangat bahagia.

Hari ini adalah hari pertama ku berada di rumah tercinta, tempat yang paling nyaman dan sangat nyaman. Pagi ini aku berencana ingin mengungkapkan kepada bapak mengenai laki-laki yang hendak mengkhitbah ku.

Tapi ternyata, bukan hanya aku yang ingin mengungkapkan tentang sesuatu hal yang selama di perjalanan ku menuju kampung halaman tercinta sudah sangat mengganjal dan membuat ku merasa tidak nyaman. Yah tentang perasaan itu, perasan yang kian lama menggebu dan menjadi sangat pilu ketidak tak mampu untuk bersatu.

Saat aku duduk disebuah kursi sofa di rumah sederhana ini, tiba-tiba bapak duduk disamping ku. Dalam hati ku sudah sangat berdebar, karena pasti ada sesuatu hal yang akan diungkapkan, mungkin berkaitan dengan surat yang bapak tanyakan tempo dulu. Mengenai perjodohan itu. Ya Allah hati ini semakin tidak karuan.

’’isna bolehkah bapak bertanya dengan mu?’’

’’iya pak boleh, ada apa ya pak?’’

’’bagaimana nak, sudah kamu pikirkan mengenai surat yang tempo dulu pernah bapak kirimkan?’’

Benar sekali bahkan angan ku pun tidak meleset. Kali ini aku harus menjawab secara langsung, dan aku pun masih bingung. Ya Allah bagaimana ini? apa yang harus aku katakana? Haruskah aku meninggalkan Cinta itu? Lalu bagaimana dengan hati ini.

’’Bapak, boleh kah isna berkata jujur?’’

’’Tentu nak, hal itu harus diungkapkan dengan jujur’’ jawab bapak.

’’Pak, jika isna sudah memilih adam yang akan menjadi imam isna bagaimana pak?, pak sejujurnya sebelum isna berangkat pulang ke lampung, murabbi isna umi rhma menyampaikan hal yang demikian pak?’’

’’Apakah isna sudah menentukan pilihan isna? Lalu Berkata apa umi rahma nak?’’

’’Sejujurnya isna belum menentukannya pak, hanya saja umi rahma mengutarakan maksud yang telah diamanah kan oleh umi rahama, lalu disampaikannya ke pada isna?’’

’’Lalu apakah isna mengenal laki-laki itu?’’

’’InsyaAllah isna mengenalnya pak, tetapi isna tak pernah bercakap-cakap dengannya. laki-laki itu adalah keponakan dari pengelola pondok persantren di yogyakarta.’’

’’Apakah isna menyukainya dan menyayangi laki-laki itu?’’

Aku hanya terdiam dan membisu, tak mampu ku ungkapkan. Mulut ku kelu. Ya Allah bagaimana ini? aku tidak mungkin mengecewakan bapak, aku tidak mungkin membuat semuanya menjadi kecewa, tapi aku berhak menentukan pilihanku. Fahmi Al-azizi, aku belum mengenalnya, namanya pun baru ku dengar melalui bapak. Dan kami tidak saling mengenal. Yang aku tahu dia mengambil konsentrasi Tafsir Hadist di Universitas Kairo, Mesir. 

’’Isna, kenapa diam nak’’ suara bapak mengagetkan ku.

’’Oh iya pak, maaf isna melamun’’

’’Semua keputusan ada di kamu nak, kamu sudah dewasa, berhak memilih. Bapak tidak akan memaksa mu jika kamu tidak bersedia, hanya saja apa yang harus bapak sampaikan dengan keluarga pak ahmad, bapak tidak enak jika melanggar perjodohan ini’’ terangnya

 

Diam seribu bahasa itu yang bisa diungkapkan oleh ku dalam keadaan seperti ini, harus bertahan dengan keheningan ini atau bangkit dan memilih. Ya Allah benar-benar terdiam aku, tak mampu aku berkata. Disisi lain aku memikirkan egoku, jelas-jelas akhi yang selama ini aku kagumi, yang ku inginkan untuk menjadi imam ketika shalat ku, yang aku selama ini hadir dalam doa dan untain tasbih ku seperti menyatu dengan nya, suara yang ku rindukan ketika jam 12. menit tepat di waktu shalat zuhur Ya Rabb apa ini Ya Allah, kenapa harus ada rasa ini, Perasaan seperti apa ini? jika engkau yang menitipkan rasa ini dan jika aku tidak berhak memilih, memiliki dan bersamanya izinkan dan segerakan cabut rasa ini Ya Allah.

’’Nak, jangan diam bapak jadi merasa bersalah jika kamu diam seperti ini, maaf jika perjodohan tu membuat diri mu tidak nyaman, tapi ketahui lah nak tidak ada orang tua yang hendak menjerumuskan anaknya. Bapak mengenal baik dengan keluarga pak ahmad, beliau sahabat karib bapak dulu saat di pesantren dan istri pak ahmad adalah sahabat ibu mu saat di Aliyah dulu, jadi sedikit banyaknya bapak bisa menilai dari hal itu. Nak fahmi juga sangat sholeh, berilmu pendidikan, dan pemahaman tentang agamanya jug baik.’’ Jelas bapak.

’’Pak apakah isna boleh untuk beristikharah, isna ingin keyakinan di hati isna dengan rasa yang penuh, tidak setengah. Boleh kah pak?’’ pinta ku.

’’Iya nak, tentu boleh. Semoga keputusan seperti yang bapak harapkan.’’ Kata bapak

’’InsyaAllah pak, semoga Allah menuntun hati ini menuju yang haqiqi’’ ujar ku.

’’Aamiin’’

’’Permisi pak isna, mau kemar dulu’’.

’’Iya nak,’’

Aku segera bangkit, dan menuju ke kamar. Entah kenapa rasanya hati ini begitu pilu, haruskah aku mengorbankan perasaan ini, apakah aku harus berhenti mengagumi nya.

Laki-laki yang dijodohkan dengan ku, aku tidak mengenalnya, apakah aku harus menerima jika aku tak memiliki cinta? tapi apakah aku mampu menolak permintaan kedua orangtua ku.?

Air mata ku tak mampu ku tahan, kutuangkan, dan ku tumpahkan. Dikeheningan tangisan ku, aku bangkit dan ku ambil air wudhu. Rasanya aku ingin sekali mencurahkan rasa ini pada Nya, mengadu pada Nya.

Kurasa ikatan batin seorang ibu pada anaknya, sangat jelas terjalin begitu kuat. Ibu yang masih menengok nenek di desa sebelah tiba-tiba pulang. Aku mendengar suara ibu yang menanyakan ku kepada bapak. Setelah ku curahkan semuanya kepada sang Illahi rasa beban dihati ini sedikit berkurang, tempat yang paling nikmat untuk mengadu dan mencurahkan segala sesuatu hanyalah dibentangan sadjadah ini dan sangat nyaman sekali.

’’Assalamu’alaikum, isna?’’ ibu mengetuk kamar ku

Segera ku hapus air mata ku, ku lepas mukena ku.

’’Wa’alaikumsalam, iya ibu sebentar’’ lalu ku buka pintu kamar ku.

’’Ada apa nak, kenapa nampaknya kamu tidak bahagia’’ Tanya ibu

’’Tidak bu, isna sangat bahagia kok bu” jawab ku

Aku berusaha menutupi kesedihan ku karena aku tahu ibu dan bapak pun akan sedih jika aku sedih. Aku tak ingin menambah beben kepada mereka. Karena aku yakin apa yang mereka pilih itu pasti yang terbaik untuk ku, hanya saja untuk kali ini aku merasa bimbang dengan pilihan mereka. Sejak kecil aku memang tak pernah menentang apa yang mereka katakana, karena apa yang mereka sarankan, katakan dan berikan semuanya untuk kebaikan ku. Tapi, kali ini aku benar-benar tak tahu, apakah aku mampu mengikuti apa yang menjadi pilihan mereka.

“Syukurlah kalau begitu nak, oya lusa keluarga pak ahmad akan kemari, bersilaturahmi sekaligus mengenalkan puteranya kepada mu. Kebetulan puteranya baru saja pulang setelah menyelesaikan gelar S2 di Kairo”.

Lagi-lagi jantung ku dibuat nyaris terhenti. Apa yang aku dengar ini? laki-laki itu, aku akan bertemu dengannya?, yang sama sekali tidak aku ketahui, apa lagi kucintai, dan aku harus menjadi isterinya! Ya Allah bantu hamba lepas dari ini semua, apakah ini yang terbaik untuk ku Ya Allah.

“Ibu, apakah tidak terlalu cepat bu, isna merasa belum pantas bu jika harus disandingkan dengan kak fahmi, isna malu bu. Isna belum baik dan isna belum merasa pantas untuk orang seperti kak fahmi yang jika didengar dari cerita bapak, ibu dan juga adik sangat luar biasa. Isna ingin memperbaiki diri isna dulu bu, isna ingin mengamalkan ilmu yang isna dapatkan. Bantu untuk berbicara kepada bapak bu, isna belum siap jika harus menikah cepat dan isna belum mampu bu?” pinta ku pada ibu.

“Isna jangan khawatir isna bisa memperbaiki diri dengan belajar menjadi seorang istri yang sholeha” jawab ibu.

“Tapi bu, apakah isna bisa bu menjalani nya, menjalani ini semua” terang ku.

“Kenapa tidak sayang, kamu pasti bisa, ibu tidak akan memaksa mu nak, tapi setidaknya kita harus bisa menghargai maksud dan tujuan dari keluarga pak ahmad” ibu menasehati dengan benar-benar menyentuh.

“Baik lah ibu, oya bu besok isna akan mulai mengajar di Madrasah bu, tadi juga isna sudah di telepon dengan pak santoso kepala sekolah di Madrasah bu. Mulai besok isna sudah bisa megajar. Isna mohon Do’a restunya ya bu?”

“Iya sayang, ibu akan mendo’a kan mu, dan tetap bersabar ya nak,”

....................................................

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NABI MUHAMMAD PROFIL MANUSIA IDEAL

cerpen “SUARA YANG KU RINDUKAN”

Puisi Pendidikan, Puisi Nawayusti